Rabu, 02 Mei 2012

Karya Tulis Anak Tunagrahita


CARA MENDIDIK DAN MENGAJAR ANAK TUNAGRAHITA SERTA KARAKTERISTIKNYA

KAYA TULIS
diajukan untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia

Oleh :
Nama       :         REVI MAYANG SARI
Kelas        :         XI IPA 3





SMA NEGERI 1 PALIMANAN
Jl. KH. Agus Salim 128 Telp. ( 0231 ) 341023 Palimanan – Cirebon 45161
Website : sman1palimanan.net


LEMBAR PENGESAHAN

Judul                 :       Cara Mendidik dan Mengajar Anak Tuna Grahita serta Karakteristiknya
Penyusun          :       Revi Mayang Sari
Kelas                 :       XI IPA 3           




Diketahui,
Wali Kelas XI IPA 3



TRI ELASARI, S. Pd.
NIP. 19841024201001 2 007

Palimanan, Mei 2012
Disahkan,
Guru Bahasa Indonesia



TRI YUNIAR, S. S.
NIP. 19820602200604 2 028



KATA PENGANTAR

        Puji syukur kehadirat Allah yang maha kuasa yang telah melimpahkan rahmat, hidayah serta inayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan Tugas Karya Ilmiah “Cara Mendidik dan Mengajar Anak Tuna Grahita serta Karakteristiknya”. Semoga dengan selesainya Tugas yang saya tulis dapat membawa manfaat bagi para pembaca.
           Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menambah pengetahuan mengenai cara mendidik dan mengajar anak tuna grahita serta karakteristiknya. Dan untuk membantu para pembaca khusunya para guru yang memiliki komitmen terhadap Anak Berkebutuhan Khusus dalam memahami salah satu jenis pembelajaran dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus baik disekolah luar biasa maupun sekolah regular.
           Karya ilmiah ini tidak akan hadir jika tidak ada dorongan dari keluarga, rekan-rekan sejawat, dan khususnya kepada
1.      Drs. H. Rahman, M.Pd.I., selaku kepala Sekolah SMAN 1 Palimanan
2.      Tri Elasari, S. Pd., selaku Wali Kelas XI IPA 3
3.      Tri Yuniar, S. S., selaku Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Dengan selesainya karya ilmiah ini, penulis menyadari bahwa penelitian ini tidak luput dari kekurangan, oleh karena itu penulis sangat menghargai kritik dan saran yang membangun dari para pembaca dalam rangka penyempurnaan.
Harapan penulis semoga karya ilmiah ini dapat memberikan sumbangan bagi para pembaca khususnya para guru terutama yang memiliki komitmen terhadap Anak Berkebutuhan Khusus dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan pembelajaran bagi mereka, sehingga tujuan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di sekolah dapat tercapai secara optimal.
Palimanan, Mei 2012


Penulis


ABSTRAK

          Karya tulis ini berjudul “Cara Mendidik dan Mengajar Anak Tuna Grahita serta Karakteristiknya” Ketunagrahitaan mengacu pada fungsi intelektual yang secara jelas berada di bawah rata-rata atau normal disertai dengan kekurangan dalam tingkah laku penyesuaian dan terjadi dalam periode perkembangan. Batasan tersebut dengan jelas menekankan signifikan dalam penyimpangan, artinya apabila keterlambatan intelektual itu hanya sedikit saja di bawah normal maka anak tersebut tidak termasuk tunagrahita. “Keterhambatan itu harus jelas sehingga membutuhkan pelayanan pendidikan khusus”. Dari batasan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa dalam memandang seseorang individu termasuk tunagrahita atau tidak minimal harus memiliki 3 komponen yaitu: kecerdasan di bawah rata-rata, kesulitan dalam perilaku adaptif dan terjadi dalam masa perkembangan.
Dengan demikian jelaslah bahwa individu dikatakan tunagrahita apabila memiliki indikator-indikator yang jelas dapat dipertanggungjawabkan, sehingga mereka membutuhkan layanan pendidikan khusus sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.
            Penelitian ini dilakukan untuk memberikan informasi kepada para pembaca tentang anak tunagrahita, tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi tentang karakteristik pada anak tunagrahita, dan manfaat dari penelitian ini salah satunya adalah menambah wawasan bagi para pembaca tentang sifat pada anak tunagrahita serta sebab-sebab ketunaan, alat atau metode yang digunakan pada penelitian ini adalah wawancara, studi pustaka, dan studi internet. Wawancara yang dilakukan yaitu dengan Kepala Sekolah SLB Al-Zakiyah Klangenan, Yunaeni, S. Pd. Begitu pula dengan sumber data yang penulis peroleh yaitu dari metode deskriptif dengan tekhnik wawancara, buku-buku tentang Anak Berkebutuhan Khusus serta internet.


Daftar Isi

LEMBAR PENGESAHAN ………………………………………………………      i
KATA PENGANTAR ...........................................................................................      ii
ABSTRAK ……………………………………………………………………….      iii
DAFTAR ISI ..........................................................................................................      iv
BAB I          PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang ..............................................................................   1
1.2    Rumusan Masalah …………………………....………………….    1
1.3    Tujuan Penulisan ............................................................................    1
1.4    Manfaat Penulisan ………………….......………………..………   2
1.5    Metode Penelitian ………………………..………………………    2
1.6    Sumber Data ..................................................................................    2
BAB II         KAJIAN TEORI
                     2.1   Pengertian Anak Tunagrahita ……………………………………    3
                     2.2   Sebab-sebab Ketunaan …………………..……………………….   4
                     2.3   Pendidikan Anak Tunagrahita ……………….……….…………    4
                     2.4   Kurikulum………...…………………………………………….     5
                     2.5   Ciri-ciri Khusus Pada Masa Perkembangannya............................   5
BAB III       PEMBAHASAN    
3.1  Cara Mendidik Anak Tunagrahita di Sekolah................................   7
3.2   Klasifikasi Anak Tunagrahita........................................................    8
3.3  Karakteristik Anak Tunagrahita.....................................................   9
BAB IV       PENUTUP
                     4.1 Simpulan .........................................................................................    10
                     4.2 Saran ...............................................................................................    10
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………         v
LAMPIRAN I ... …………………………………..………………………………..  vi
LAMPIRAN II ... ………………………………..………………………………..     vii


BAB I
Pendahuluan
1.1  Latar Belakang
Pendidikan khusus sebagai salah satu bentuk pendidikan yang khusus di peruntukan bagi mereka yang mengalami hambatan dalam belajarnya, secara sadar terus berupaya untuk meningkatkan pelayanan pendidikan dengan sebaik-baiknya.
Menyadari bahwa Anak Berkebutuhan Khusus ( ABK ) adalah individu yang unik. Keunikan ini mengandung pengertian bahwa ABK mempunyai sifat-sifat khusus atau karakteristik yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, baik dalam segi kemampuan, bakat, minat maupun gaya belajarnya.
Mendidik siswa di sekolah luar biasa tidak sama dengan mendidik siswa di sekolah umum. Yang perlu dipahami oleh pendidik yang memiliki siswa tunagrahita antara adalah guru harus mehami karakter anak tunagrahita yang memiliki keunikan tersendiri yaitu bersifat pelupa, susah memahami perintah yang kompleks, perhatian mudah terganggu, dan susah memahami hal-hal yang kompleks. Oleh karena itu guru siswa tunagrahita harus sabar, penyayang, mengajar dengan kata-kata sederhana dan gambar yang nyata.

1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah ini adalah
a.       Bagaimana cara mendidik Anak Tuna Grahita di Sekolah ?
b.      Bagaimana klasifikasi Anak Tuna Grahita ?
c.       Bagaimana karakteristik Anak Tuna Grahita ?

1.3  Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah
a.       Untuk melengkapi tugas Mata pelajaran Bahasa Indonesia
b.      Untuk mengetahui bagaimana karakteristik Anak Tuna Grahita
c.       Untuk mengetahui gambaran bagaimana  cara mendidik  dan mengajar anak Tuna Grahita di Sekolah
d.      Untuk memberikan informasi kepada para pembaca bagaimana keadaan fisik maupun mental serta penyebab ketunaan pada anak berkebutuhan khusus, khususnya pada Anak penderita Tuna Grahita

1.4  Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan ini adalah
a.       Bisa mempelajari dan mengetahui cara mendidik dan mengajari Anak Tuna Grahita
b.      Bisa mengetahui karakteristik dan pendidikan Anak-Anak Tuna Grahita
c.       Memperdalam pengetahuan kita tentang Anak Tuna Grahita

1.5  Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan tekhnik Wawancara dan Studi Pustaka.

1.6  Sumber data
Sumber data yang diperoleh berasal dari Sumber Data Primer dan Sumber Data Sekunder, Adapun Sumber Data Primer dan Sumber Data Sekunder yaitu sebagai berikut :
a.       Sumber Data Primer :
Data yang di peroleh yaitu dari wawancara dengan Yunaeni, S. Pd, Kepala Sekolah SLB Al-Zakiyah Klangenan-Cirebon.

b.      Sumber Data Sekunder :
Selain dari metode wawancara, data yang di peroleh di ambil dari internet, dan buku-buku mengenai Anak Berkebutuhan Khusus ( ABK )


BAB II
Kajian Teori

2.1 Pengertian Anak Tunagrahita
Istilah untuk anak tunagrahita bervariasi, dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama : lemah pikiran, terbelakang mental, cacat grahita dan tunagrahita.
Dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Mentally Handicaped, Mentally Retardid. Anak tunagrahita adalah bagian dari anak luar biasa. Anak luar biasa yaitu anak yang mempunyai kekurangan, keterbatasan dari anak normal. Sedemikian rupa dari segi: fisik, intelektual, sosial, emosi dan atau gabungan dari hal-hal tadi, sehingga mereka membutuhkan layanan pendidikan khusus untuk mengembangkan potensinya secara optimal.
Jadi anak tunagrahita adalah anak yang mempunyai kekurangan atau keterbatasan dari segi mental intelektualnya, dibawah rata-rata normal, sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik, komunikasi, maupun sosial, dan karena memerlukan layanan pendidikan khusus.
Pengertian Tunagrahita menurut American Asociation on Mental Deficiency/AAMD dalam B3PTKSM, (p. 20) sebagai berikut: yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata (Sub-average), yaitu IQ 84 ke bawah berdasarkan tes; yang muncul sebelum usia 16 tahun; yang menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif. Sedangkan pengertian Tunagrahita menurut Japan League for Mentally Retarded (1992: p.22) dalam B3PTKSM (p. 20-22) sebagai berikut: Fungsi intelektualnya lamban, yaitu IQ 70 kebawah berdasarkan tes inteligensi baku.Kekurangan dalam perilaku adaptif. Terjadi pada masa perkembangan, yaitu anatara masa konsepsi hingga usia 18 tahun. Pengklasifikasian/penggolongan Anak Tunagrahita untuk keperluan pembelajaran menurut American Association on Mental Retardation dalam Special Education in Ontario Schools (p. 100) sebagai berikut:
EDUCABLE : Anak pada kelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak reguler pada kelas 5 Sekolah dasar.
2.2  SEBAB-SEBAB KETUNAAN
Menurut penyelidikan para ahli (tunagrahita) dapat terjadi :
1.   Prenatal (sebelum lahir)
Yaitu terjadi pada waktu bayi masih ada dalam kandungan, penyebabnya seperti : campak, diabetes, cacar, virus tokso, juga ibu hamil yang kekurangan gizi, pemakai obat-obatan (naza) dan juga perokok berat.

2.   Natal (waktu lahir)
Proses melahirkan yang sudah, terlalu lama, dapat mengakibatkan kekurangan oksigen pada bayi, juga tulang panggul ibu yang terlalu kecil. Dapat menyebabkan otak terjepit dan menimbulkan pendarahan pada otak (anoxia), juga proses melahirkan yang menggunakan alat bantu (penjepit, tang).

3.      Pos Natal ( Sesudah Lahir)
Pertumbuhan bayi yang kurang baik seperti gizi buruk, busung lapar, demam tinggi yang disertai kejang-kejang, kecelakaan, radang selaput otak (meningitis) dapat menyebabkan seorang anak menjadi ketunaan (tunagrahita).

2.3  PENDIDIKAN ANAK TUNAGRAHITA
Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 bahwa setiap warga negara berhak untuk mendapatkan pengajaran. Demikian halnya dengan anak tunagrahita berhak untuk mendapatkan pendidikan. Sekolah-sekolah untuk melayani pendidikan anak luarbiasa (tunagrahita) yaitu Sekolah Luar Biasa (SLB) atau sekolah berkebutuhan khusus.
1.      Sekolah untuk anak luar biasa terdiri dari :
a.          SLB – A untuk anak Tunanetra
b.         SLB – B untuk anak Tunarungu
c.          SLB – C untuk anak Tunagrahita
d.         SLB – D untuk anak Tunadaksa
e.          SLB – E untuk anak Tunalaras
f.          SLB – F untuk anak Berbakat
g.         SLB – G untuk anak cacat ganda
2.         Sekolah Luar Biasa untuk anak tunagrahita dibedakan menjadi :
a.          SLB – C untuk Tunagrahita ringan
b.         SLB – C untuk Tunagrahita sedang
3.         Untuk Tunagrahita berat biasanya berbentuk panti plus asramanya.

2.4  KURIKULUM
      Dalam memberikan layanan pendidikan tidak terlepas dari yang namanya kurikulum. Kurikulum sebagai pedoman bagi sekolah. Kepala sekolah dan guru dalam melaksanakan tugasnya. Kurikulum untuk Sekolah Luar Biasa disesuaikan dengan jenis dan tingkat ketunaannya, mulai dari tingkat TKLB sampai dengan SMALB. Kurikulum yang sekarang ini digunakan yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004. Selain mempelajari mata pelajaran umum, ada juga mata pelajaran ke khususan, untuk anak tunagrahita yaitu mata pelajaran “Bina Diri” didalamnya mencakup:
1.      Mengurus diri
2.      Menolong diri
3.      Komunikasi dan Sosialisasi

2.5  CIRI-CIRI KHUSUS PADA MASA PERKEMBANGANNYA
a.       Masa Bayi
Para ahli mengemukakan bahwa tunagrahita adalah tampak mengantuk saja , apatis tidak pernah sadar, jarang menangis, kalau menangis terus menerus, terlambat duduk, bicara dan berjalan.
b.      Masa Kanak-kanak
Ciri ciri klinis seperti mongoloid, kepala besar, dan kepala kecil. Tetapi anak tunagrahita ringan ( yang lambat ) memperlihatkan ciri-ciri sukar mulai dengan sesuatu. Mengerjakan sesuatu dengan berulang-ulang tetapi tidak ada variasi, tampak penglihatannya kosong, melamun, ekspresi muka tanpa ada pengertian.
c.       Masa Puber
Perubahan yang dimiliki remaja tunagrahita sama halnya dengan remaja biasa. Pertumbuhan fisik berkembang normal, tetapi perkembangan berfikir dan kepribadian berada di bawah usianya. Akibatnya ia mengalami kesulitan dalam pergaulan dan mengendalikan diri


BAB III
Pembahasan

3.1     Cara mendidik Anak Tuna Grahita di Sekolah
Keterbatasan kecerdasan yang di miliki anak tunagrahuta menjadi kendala utama dalam belajar. Mereka tidak mampu berkompetisi dalam belajar dengan temannya yang normal sehingga mereka seringkali menjadi bahan olok-olok sebagai anak yang bodoh di kelas.
Materi pembelajaran bagi anak tunagrahita harus di rinci dan sedapat mungkin di mulai dari hal-hal konkrit, mengingat mereka mengalami keterbatasan dalam berfikir abstrak. Walaupun demikian materi yang bersifat akademik tetap di berikan sampai mereka memperlihatkan ketidak mampuannya. Sebaliknya materi pelajaran keterampilan memiliki bobot yang tinggi karena melalui materi ini di harapkan mereka dapat memiliki suatu keterampilan sebagai bekal hidupnya.
Dan materi pelajaran bina diri bagi anak tunagrahita harus diprogamkan secara rinci dan mendapat bobot yang tinggi pula karena tidak dapat mempelajari hal itu hanya melalui pengamatan seperti yang di lakukan anak normal.
Strategi pembelajaran yang dapat digunakan pada pembelajaran anak tunagrahita adalah strategi pembelajaran yang diindividualisasikan dimana mereka belajar bersama-sama dalam satu kelas tetapi kedalaman dan keluasan materi, pendekatan/metode maupun teknik berbeda-beda di sesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan setiap peserta didik. Namun demikian dapat pula menggunakan strategi lainnya seperti strategi kooperatif, dan strategi modifikasi tingkah laku. Metode mengajar hendaknya harus dipilih agar anak belajar dengan melakukan karena dengan praktek rangsangan yang di peroleh melalui motorik akan cepat di pusat berpikir dan tidak mudah di lupakan.
Alat/media yang di gunakan dalam pembelajaran anak tunagrahita harus memperhatikan beberapa criteria, seperti : anak memiliki tanggapan tentang yang di pelajarinya, tidak mudah rusak, tidak berbahaya, tidak abstrak, dapat di gunakan anak, dan mudah di peroleh.
Evaluasi belajar dalam pembelajaran anak tunagrahita harus dilakukan setelah mempelajari salah satu bagian kecil dalam materi pembelajarannya, dan setelah itu barulah kita pindah pada materi berikutnya. Alat evaluasi sebaiknya berbentuk kinerja dan hasilnya pun diolah secara kualitatif. Sedangkan penilaian kuantitatif di buat apabila dibutuhkan namun didampingi dengan uraian singkat ( bersifat deskriptif )

3.2  Klasifikasi Anak Tuna Grahita
Potensi dan kemampuan setiap anak berbeda-beda demikian juga dengan anak tunagrahita, maka untuk kepentingan pendidikannya, pengelompokkan anak tunagrahita sangat diperlukan. Pengelompokkan itu berdasarkan berat ringannya ketunaan, atas dasar itu anak tungrahita dapat dikelompokkan.
  1. Tunagrahita Ringan (Debil)
Anak tunagrahita ringan pada umumnya tampang atau kondisi fisiknya tidak berbeda dengan anak normal lainnya, mereka mempunyai IQ antara kisaran 50 s/d 70. Mereka juga termasuk kelompok mampu didik, mereka masih bisa dididik (diajarkan) membaca, menulis dan berhitung, anak tunagrahita ringan biasanya bisa menyelesaikan pendidikan setingkat kelas IV SD Umum.
  1. Tunagrahita Sedang atau Imbesil
Anak tunagrahita sedang termasuk kelompok latih. Tampang atau kondisi fisiknya sudah dapat terlihat, tetapi ada sebagian anak tunagrahita yang mempunyai fisik normal. Kelompok ini mempunyai IQ antara 30 s/d 50. Mereka biasanya menyelesaikan pendidikan setingkat ke;las II SD Umum.
  1. Tunagrahita Berat atau Idiot
Kelompok ini termasuk yang sangat rendah intelegensinya tidak mampu menerima pendidikan secara akademis. Anak tunagrahita berat termasuk kelompok mampu rawat, IQ mereka rata-rata 30 kebawah. Dalam kegiatan sehari-hari mereka membutuhkan bantuan orang lain.

3.3  Karakteristik Anak Tunagrahita
Karakteristik atau ciri-ciri anak tunagrahita dapat dilihat dari segi :
1.      Fisik (Penampilan)
a.       Hampir sama dengan anak normal
    1. Kematangan motorik lambat
    2. Koordinasi gerak kurang
    3. Anak tunagrahita berat dapat kelihatan
  1. Intelektual
    1. Sulit mempelajari hal-hal akademik.
    2. Anak tunagrahita ringan, kemampuan belajarnya paling tinggi setaraf anak normal usia 12 tahun dengan IQ antara 50 – 70.
    3. Anak tunagrahita sedang kemampuan belajarnya paling tinggi setaraf anak normal usia 7, 8 tahun IQ antara 30 – 50
    4. Anak tunagrahita berat kemampuan belajarnya setaraf anak normal usia 3 – 4 tahun, dengan IQ 30 ke bawah.
  2. Sosial dan Emosi
    1. Bergaul dengan anak yang lebih muda.
    2. Suka menyendiri
    3. Mudah dipengaruhi
    4. Kurang dinamis
    5. Kurang pertimbangan/kontrol diri
    6. Kurang konsentrasi
    7. Mudah dipengaruhi
h.      Tidak dapat memimpin dirinya maupun orang lain.

BAB IV
Penutup

4.1 Simpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah di uraikan, dapat disimpulkan
a.       Anak Tunagrahita tidak sama dengan Anak normal biasa, jadi butuh pengajaran khusus bagi anak Tunagrahita
b.      Anak Tunagrahita memiliki IQ yang lebih rendah di bamdimgkan dengan Anak normal lainnya
c.       Anak Tunagrahita mengalami kesulitan dalam pergaulan dan mengendalikan diri, setelah tamat sekolah ia belum siap untuk bekerja, sedangkan ia tidak mungkin untuk melanjutkan pendidikan. Akibatnya ia hanya tinggal di rumah yang pada akhirnya ia merasa frustasi.
d.      Anak Tunagrahita memiliki masalah dalam kehidupan sehari-hari, masalah kesulitan belajar, masalah penyesuaian diri, masalah penyaluran ke tempat kerja.


4.2  Saran
a.       Apabila orang tua mendapat anak-anaknya sudah ada tanda-tanda bahwa dia adalah Tunagrahita segeralah sekolahkan dia ke Sekolah-sekolah khusus agar ia dapat berinteraksi pada teman-temannya.
b.      Untuk lingkungan anak-anak tunagrahita perlu disiapkan sarana-sarana perkembangan kemudian memberikan kebebasan kepada anak untuk berkembang dengan sarana-sarana tersebut, dengan cara begitu setiap anak tunagrahita akan menemukan pilihannya sendiri dan menyukai latihan-latihan  dengan dapat material yang disenanginya, yang sedikit demi sedikit dapat menuntun perkembangannya.



DAFTAR PUSTAKA

Bandi Delphi ( 2007 ) Pembelajaran untuk Anak dengan Kebutuhan Khusus, Jakarta: Depdiknas
Santoso ( 1983 ) Menolong untuk SLB bagian C, Jakarta: Depdikbud


LAMPIRAN I
Daftar pertanyaan:
1.      Bagaimana masa perkembangan Anak Tunagrahita ?
2.      Ada berapakah jenis anak Tunagrahita ?
3.      Bagaimana sikap pada anak Tunagrahita ?
4.      Apakah sulit untuk mengajar anak yang mempunyai kekurangan seperti anak Tunagrahita ?
Nara Sumber : Yunaeni, S. Pd. Kepala Sekolah SLB Al – Zakiyah.



LAMPIRAN II
Jika para pembaca kurang jelas atas penelitian yang penulis buat atau ingin lebih mengenal pofil penulis, bisa dilihat pada akun jejaring sosialnya
 revisari13.blogspot.com
 @reviunderstand


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar